Pages

Showing posts with label RENUNGAN. Show all posts
Showing posts with label RENUNGAN. Show all posts

Saturday, January 7, 2012

Bingung Ngasih Judul

Ada seorang pria yang mengaku mencintai seorang wanita, bahwa ia (pria) mencintai wanita tersebut karena Allah. Dengan terang-terangan saat wanita itu bertanya: "hey, apa alasan kamu ingin menikahi aku.?", jawab si pria sambil tersenyum: "aku ingin menikahimu karena Allah"
Sekilas begitu mendalam sekali jawaban yang diberikan oleh pria tersebut.
Bagaimana tidak.!! Dia mencintai wanita yang bertanya kepadanya hanya karena Allah.

Aaaaaaaagh... Boleh iya, boleh tidak, untuk meyakini ucapan si pria itu. Tapi yang jelas, hanya Allah yang tahu tentang alasan yang sebenarnya bahwa ia ingin menikahi si wanita.

Tak sepantasnya mengungkapkan dengan terang-terangan melalui sebuah mulut manusiawi yang penuh cacat bahwa alasan mencintai seseorang karena Allah. Cukup, hanya diri kita dan Allah yang tahu.

Selebihnya cukup ungkapkan sisi manusiawi dan power diri sebagai alasan bahwa diri ini mencintainya.
Tak jarang orang mengaku-ngaku mencintai lawan jenisnya hanya karena Allah, tapi bagaimana mungkin semua itu benar tanpa ada bukti yang diberikan. Di saat seseorang berkata "aku mencintaimu karena Allah" ada peluang buat kita untuk menguji kebenaran dari tentang apa yang dituturkan dari mulutnya itu. Mau tahu caranya.? Tolak aja secara baik-baik keinginannya tuk menjalin kasih denganmu. Lalu lihat apa yang akan terjadi.??

Jika benar-benar seorang pria mencintai seorang wanita karena Allah tak sepantasnya pria tersebut harus marah besar, kecewa mendalam dan benci yang membabi buta, disaat wanita itu menolak keinginannya tuk jadi kekasih.
Apakah pantas bersikap seperti itu.?
Apa gak malu dengan ucapan manis "aku mencintaimu karena Allah".?
Tapi pada akhirnya ia tumbang oleh cinta nafsunya.
Berarti bukan karena Allah ia mencintai lawan jenisnya, tapi gak jauh hanya karena nafsu belaka



Moga kita termasuk golongan orang-orang beruntung yang mampu menggunakan hati dan mulut tuk selalu digunakan dalam pencarian Ridho-Nya..


Amiin Ya Rabb

Thursday, January 5, 2012

Renungan Untuk Akhwat-Ikhwan Berta'aruf di Dunia Maya

“Ukhti, aku tertarik ta’aruf sama anti.” Itulah kalimat yang sering diadukan oleh para akhwat yang penulis kenal. Dalam satu minggu bisa ada dua tawaran ta’aruf dari ikhwan dunia maya. Berdasarkan curhat para akhwat, rata-rata si ikhwan tertarik pada akhkwat melalui penilaian komentar akhwat :D.
Image and video hosting by TinyPic
Banyaknya jaringan sosial di dunia maya seperti facebook, yahoo messenger, dll, menjadikan akhwat dan ikhwan mudah berinteraksi tanpa batas. Begitu lembut dan halusnya jebakan dunia maya, tanpa disadari mudah menggelincirkan diri manusia ke jurang kebinasaan.

Kasus ta'aruf ini sangat memprihatinkan sebenarnya. Seorang bergelar memajang profil islami, tapi serampangan memaknai ta’aruf. Melihat akhwat yang dinilai bagus kualitas agamanya, langsung berani mengungkapkan kata ‘ta’aruf’, tanpa perantara.

Jangan memaknai kata “ta’aruf” secara sempit, pelajari dulu serangkaian tata cara ta’aruf atau kaidah-kaidah yang dibenarkan oleh Islam, ta'aruf itu apa sih?. Jika memakai kata ta’aruf untuk bebas berinteraksi dengan lawan jenis, lantas apa bedanya yang telah mendapat hidayah dengan yang masih jahiliyah? Islam telah memberi konsep yang jelas dalam tatacara ta’aruf.

Suatu ketika ada sebuah cerita di salah satu situs jejaring sosial, pasangan akhwat-ikhwan mengatakan sedang ta’aruf, dan untuk menjaga perasaan masing-masing, digantilah status mereka berdua sebagai pasutri, sungguh memiriskan hati. Pernah juga ada kisah ikhwan-akhwat yang saling mengumbar kegenitan di dunia maya, berikut ini petikan obrolannya:

>>“Assalamualaikum ukhti,” Sapa sang ikhwan.
>>“‘Wa’alikumsalam akhi,” Balas sang akhwat.
>>“Subhanallah ukhti, ana kagum dengan kepribadian anti, seperti Sumayyah, seperti Khaulah binti azwar, bla bla bla bla…” puji ikhwan tersebut.

Apakah berakhir sampai di sini? Oh no…. Rupanya yang ditemui ini juga akhwat genit, maka berlanjutlah obrolan tersebut, si ikhwan bertanya apakah si akhwat sudah punya calon, lantas si akhwat menjawab.

“Alangkah beruntungnya akhwat yang mendapatkan akhi kelak.”

Sang ikhwan pun tidak mau kalah, balas memuji akhwat.

“Subhanallah, sangat beruntung ikhwan yang mendapatkan bidadari dunia seperti anti.”


....Banyaknya jaringan sosial di dunia maya menjadikan akhwat dan ikhwan mudah berinteraksi tanpa batas. Ikhwannya membabi buta, akhwatnya terpedaya....



Owh mengerikan, berlebay-lebay :D di dunia maya, syaitan tak mau menyia-nyiakan kesempatan ini. Lalu tertancaplah rasa, bermekaran di dada dua sejoli tersebut, yang belum ada ikatan pernikahan.

Dengan bangganya sang ikhwan menaburkan janji-janji manis, akan mengajak akhwat hidup di planet mars (wkwkwkwk.. :D), mengunjungi benua-benua di dunia. Hingga larutlah keduanya dalam janji-janji lebay (huuueek..:lol:). Ikhwannya membabi buta, akhwatnya terpedaya……a’udzubillah, bukan begitu ta’aruf yang Rasulullah ajarkan.

Wahai Ikhwan, Jangan Permainkan Ta’aruf!
Muslimah itu mutiara, tidak sembarang orang boleh menyentuhnya, tidak sembarang orang boleh memandangnya. Jika kalian punya keinginan untuk menikahinya, carilah cara yang baik yang dibenarkan Islam. Cari tahu informasi tentang akhwat melalui pihak ketiga yang bisa dipercaya. Jika maksud ta’arufmu untuk menggenapkan separuh agamamu, silakan saja, tapi prosesnya jangan keluar dari koridor Islam.

....Wahai ikhwan, relakah jika adikmu dijadikan ajang coba-coba ta’aruf oleh orang lain? Tentu engkau keberatan bukan?....


Wahai ikhwan, relakah jika adikmu dijadikan ajang coba-coba ta’aruf oleh orang lain? Tentu engkau keberatan bukan? Jagalah izzah muslimah, mereka adalah saudaramu. Pasanglah tabir pembatas dalam interaksi dengannya. Pahamilah, hati wanita itu lembut dan mudah tersentuh, akan timbul guncangan batin jika jeratan yang kalian tabur tersebut hanya sekedar main-main.

Jagalah hati mereka, jangan banyak memberi harapan atau menabur simpati yang dapat melunturkan keimanan mereka.

Mereka adalah wanita-wanita pemalu yang ingin meneladani wanita mulia di awal-awal Islam, biarkan iman mereka bertambah dalam balutan rasa nyaman dan aman dari gangguan JIL alias Jaringan Ikhwan Lebay (hihihi..).

Wahai Ikhwan, Ini hanya sekedar nasihat, jangan mudah percaya dengan apa yang dipresentasikan orang di dunia maya, karena foto dan kata- kata yang tidak kamu ketahui kejelasan karakter wanita, tidak dapat dijadikan tolak ukur kesalehahan mereka, hendaklah mengutus orang yang amanah yang membantumu mencari data dan informasinya.

....luasnya ilmu yang engkau miliki tidak menjadikan engkau mulia, jika tidak kau imbangi dengan menjaga adab pergaulan dengan lawan jenis....


Wahai ikhwan, luasnya ilmu yang engkau miliki tidak menjadikan engkau mulia, jika tidak kau imbangi dengan menjaga adab pergaulan dengan lawan jenis.

Duhai Akhwat, Jaga Hijabmu!
Duhai akhwat, jaga hijabmu agar tidak runtuh kewibaanmu. Jangan bangga karena banyaknya ikhwan yang menginginkan taaruf. Karena ta’aruf yang tidak berdasarkan aturan syar’i, sesungguhnya sama saja si ikhwan meredahkanmu. Jika ikhwan itu punya niat yang benar dan serius, tentu akan memakai cara yang Rasulullah ajarkan, dan tidak langsung menembak kalian dengan caranya sendiri.

Duhai akhwat, terkadang kita harus mengoreksi cara kita berinteraksi dengan mereka, apakah ada yang salah hingga membuat mereka tertarik dengan kita? Terlalu lunakkah sikap kita terhadapnya?

Duhai akhwat, sadarilah, orang-orang yang engkau kenal di dunia maya tidak semua memberikan informasi yang sebenarnya, waspadalah, karena engkau adalah sebaik-baik wanita yang menggenggam amanah Ilahi. Jangan mudah terpedaya oleh rayuan orang di dunia maya.

....berhiaslah dengan akhlak islami, jangan mengumbar kegenitan pada ikhwan yang bukan mahram....


Duhai akhwat, berhiaslah dengan akhlak islami, jangan mengumbar kegenitan pada ikhwan yang bukan mahram, biarkan apayang ada di dirimu menjadi simpanan manis buat suamimu kelak.

Duhai akhwat, ta’aruf yang sesungguhnya haruslah berdasarkan cara Islam, bukan dengan cara mengumbar rasa sebelum ada akad nikah.




Sumber: [Yulianna PS/voa-islam.com]

Wednesday, January 4, 2012

Merenung Dengan Diam

Keyakinan akan kehadiran seorang kekasih yang menjadi pendamping tentu disertai dengan keyakinan atas pilihan-Nya. Pilihan- Nya tak akan pernah salah bukan?
Banyak wanita yang sudah menjadi seorang istri mengeluh karena Allah Azza Wa Jalla tidak memilihkan orang yang tepat untuknya, hanya karena dia merasa bahwa orang yang Allah pilihkan tidak sesuai dengan harapan.

Inginnya yang romantis dan perhatian, tapi ketika menikah ternyata pasangan kita jarang sekali menunjukkan sisi romantisnya. Sebagai seorang wanita tentu hal semacam ini akan menimbulkan rasa yang luar biasa tidak menyenangkan, karena wanita memang selalu ingin diperhatikan. Akhirnya tidak bisa dihindari lagi adanya sedikit konflik, pertengkaran, bahkan awalnya pertengkaran kecil bisa berubah menjadi pertengkaran yang besar.

Maklum saja, perasaan wanita memang lebih sensitif daripada laki-laki. Kadang wanita lebih memilih diam ketika merasa pasangannya tidak sesuai dengan yang diinginkan, sedangkan laki-laki lebih sering tidak sensitif atau peka dengan perasaan pasangannya.

Konon, ngambek lah yang jadi andalan senjata perempuan kalau pasangannya tidak juga mengerti kemauannya alias cuek. Walaupun tidak semuanya saya rasa, tapi kebanyakan mengandalkan senjata yang satu ini. Yaa…terkadang dengan ngambek, bercucuran air mata, pasangan kita justru akan lebih paham, sehingga kaum hawa sering diidentikkan dengan ngambekan dan air mata.

Sebenarnya banyak dari kita yang sudah paham, bahwa setiap dari kita harus menerima pasangan masing-masing dan tentu saja harus mau hidup dengan hal itu. Bahkan kita terkadang lupa bahwa pernikahan bukan hanya menerima apa yang terlihat tapi harus mau menerima perbedaan, karena pernikahan adalah bertemunya dua pihak dengan latar belakang berbeda yang membuat masing-masing diri kita harus mengerti agar kita mampu mengubah pandangan diri menjadi versi yang disukai pasangan kita.

Buat saya,betapapun cueknya, leceknya ataupun tukang nangis, ngambekannya, cerewetnya kekasih saya, dia tetaplah orang yang paling terkasih, tak soal bagaimanapun dia. Dan seharusnya perasaan itu abadi bukan hanya kasih- kasihan ketika di awal pernikahan dan standar di tengah bahkan hancur di akhir.
Nggak banget deh!

Saya jadi menyadari bahwa tidak mudah melewati bilangan tahun pernikahan, melihat sepasang suami istri berjalan begandengan tangan meskipun sudah berusia renta membuat saya selalu berpikir, bagaimana mereka masih bisa mesra dengan melewati tahun-tahun yang saya rasa tidaklah mudah dan apakah saya atau kita bisa melewati tahun- tahun pernikahan sama seperti mereka?
Jangankan untuk urusan perjalanan pernikahan yang awet, laaaaaaah... untuk urusan ta'aruf buat lanjut ke jenjang pernikahan pun sering tumbang di tengah jalan.

Tentu saja jawabannya ada pada setiap diri kita, mau dibawa kemana arah suatu pernikahan sehingga bisa tercipta suasana SAMARA di rumah kita. Salah satunya dengan menerima ketidak sempurnaan pasangan kita yang justru membuat kita akan tumbuh menjadi pribadi yang merasa bahwa ketidaksempurnaan pasangan kita adalah penyempurna diri kita. Karena jelas diri kita pun tidaklah sempurna, kita punya kekurangan walaupun kita pasti memiliki kelebihan. Dengan ketidaksempurnaan itulah, kita merubah diri kita menjadi pribadi yang lebih baik dengan mencintai apa yang justru tidak sempurna pada diri pasangan kita.

Bukankah ketika kita memutuskan untuk mencintai seseorang artinya kita juga memutuskan untuk menerima apapun kekurangan dari pasangan kita, dan ingat, lakukanlah penerimaan itu jangan hanya dikatakan saja. Di awal pernikahan selalu berkata akan menerima segala kekurangan, namun setelah tahun demi tahun lewat, kata itu hanyalah tinggal kata, yang ada justru membandingkan pasangan kita dengan orang lain.
Berbahaya sekali.

Sudah sepatutnya ketika kita memutuskan berkata akan menerima, maka perilaku kita terhadap pasangan kitapun harus memperlihatkan bahwa kita menerima kekurangan pasangan kita. Jadilah pribadi yang benar-benar utuh menerima ketidaksempurnaan pasangan kita menjadi penyempurna diri kita.


Karena saya yakin, dibalik pribadi yang berbeda justru ada pribadi yang saling melengkapi










..Sedari sore tadi ia terdiam
..kucoba membaca kenapa
..kucoba dan kucoba hendak apa ia terdiam
..moga ada hal terindah dibalik diam-mu itu

Sunday, December 25, 2011

Bolehkah Mengikuti Natal Bersama dan Tahun Baru ? (part II)

Baca artikel sebelumnya Bolehkah Mengikuti Natal Bersama dan Tahun Baru ?(part I)



Menghadiri Pesta Perayaan Natal
Hukum menghadiri pesta perayaan natal tidak jauh bedanya dengan hukum mengucapkan selamat natal. Bahkan dapat dikatakan bahwa hukum menghadiri perayaan natal lebih buruk lagi ketimbang sekedar memberi ucapan selamat natal kepada orang kafir karena dengan datang ke perayaan tersebut, maka berarti ia ikut berpartisipasi dalam ritual agama mereka. Dan dengan menghadiri pesta perayaan tersebut berarti telah memberikan kesaksian palsu (Syahadatuzzur) terhadap ibadah yang mereka lakukan dan ini dilarang dalam agama Islam (lihat Tafsir Taisir Karimirrahman, Surat Al Furqon ayat 72). Allah berfirman yang artinya: Katakanlah: “Hai orang-orang kafir. Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang aku sembah. Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah. Untukmu agamu, dan untukkulah agamaku.” Maka Saudariku, seorang muslim diharamkan untuk hadir pada perayaan keagamaan di luar agama islam baik ia diundang ataupun tidak.

Hukum Merayakan Tahun Baru
Beberapa hari setelah natal berlalu, masyarakat mulai disibukkan dengan persiapan menyambut tahun baru masehi pada tanggal satu Januari. Bagaimana Islam memandang hal ini? Saudariku, Allah telah menganugerahkan dua hari raya kepada kita, yaitu Idul Fitri dan Idul Adha dimana kedua hari raya ini disandingkan dengan pelaksanaan dua rukun yang agung dari rukun Islam, yaitu ibadah haji dan puasa Ramadhan. Di dalamnya, Allah memberi ampunan kepada orang-orang yang melaksanakan ibadah haji dan orang- orang yang berpuasa, serta menebarkan rahmat kepada seluruh makhluk. Ukhti, hanya dua hari raya inilah yang disyariatkan oleh agama Islam. Diriwayatkan dari Anas radhiallahu ‘anhu bahwa ia berkata, “Ketika Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam datang ke Madinah, penduduk Madinah memiliki dua hari raya yang mereka bermain-main di hari raya itu pada masa jahiliyyah, lalu beliau bersabda: ‘Aku datang kepada kalian sedangkan kalian memiliki dua hari raya yang kalian bermain di hari itu pada masa jahiliyyah. Dan sungguh Allah telah menggantikannya untuk kalian dengan dua hari yang lebih baik dari keduanya, yaitu hari raya Idul Adha dan idul Fitri.’” (Shahih, dikeluarkan oleh Ahmad, Abu Daud, An- Nasa’I, dan Al-Baghawi) Maka tidak boleh umat Islam memiliki hari raya selain dua hari raya di atas, misalnya Tahun Baru. Tahun Baru adalah hari raya yang tidak ada tuntunannya dalam Islam.Disamping itu, perayaan Tahun Baru sangat kental dengan kemaksiatan dan mempunyai hubungan yang erat dengan perayaan natal. Lihatlah ketika para remaja berduyun-duyun pergi ke pantai saat malam tahun baru untuk begadang demi melihat matahari terbit pada awal tahun, kebanyakan dari mereka adalah berpasang-pasangan sehingga tentu saja malam tahun baru ini tidak lepas dari sarana-sarana menuju perzinaan. Jika tidak terdapat sarana menuju zina, maka hal ini dapat dihukumi sebagai perbuatan yang sia-sia. Ingatlah saudariku, ada dua kenikmatan dari Allah yang banyak dilalaikan oleh manusia, yaitu kesehatan dan waktu luang (HR Bukhari). Maka janganlah kita isi waktu luang kita dengan hal sia-sia yang hanya membawa kita ke jurang kenistaan dan menjadikan kita sebagai insan yang merugi. Saudariku, Allah telah menyempurnakan agama ini dan tidak ada satupun amal ibadahpun yang belum Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sampaikan kepada umatnya. Maka tidak ada lagi syari’at dalam Islam selain yang telah Allah wahyukan kepada Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, tidak ada lagi syari’at dalam Islam selain yang telah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ajarkan pada kita. Saudariku, ikutilah apa yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tuntunkan kepada kita, janganlah engkau meniru-niru orang kafir dalam ciri khas mereka. Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka ia merupakan bagian dari kaum tersebut (Hadits dari Ibnu ‘Umar dengan sanad yang bagus). Setiap diri kita adalah pemimpin bagi dirinya sendiri dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang ia pimpin.
Semoga Allah senantiasa menyelamatkan agama kita.
Wallaahu a’lam.







SUMBER: www.muslimah.or.id yang disusun oleh: Ummu Aiman, Muraja’ah: Ustadz Abu Salman
Maraji’: 1. Fatwa: Natal Bersama. Majalah Al-Furqon Edisi 4 Tahun III.
2. Fatwa: Natal Bersama. Majalah Al-Furqon Edisi 4 Tahun IV.
3. Fatwa-Fatwa Terkini 2. Cetakan ketiga. Tahun 2006. Darul Haq.
4. Bulletin At-Tauhid Edisi 96 Tahun II.

Bolehkah Mengikuti Natal Bersama dan Tahun Baru ? (part I)

Setiap bulan Desember umat nasrani merayakan hari raya agama mereka, yaitu Hari Natal yang jatuh pada tanggal 25 Desember. Mendekati bulan ini, beberapa sudut pertokoan mulai ramai dengan hiasan natal. Supermarket-supermarket yang mulanya sepi-sepi saja, kini dihiasi dengan pernak-pernik natal. Media massa pun tidak ketinggalan ikut memeriahkan hari raya ini dengan menayangkan acara-acara spesial natal.

Disudut kampus, seorang mahasiswi berkerudung menjabat tangan salah seorang teman wanitanya yang beragama nasrani sambil berkata, “Selamat Natal ya…” Aih-aih, tidak tahukah sang muslimah ini bagaimana hukum ucapan tersebut dalam syariat Islam?
Saudariku, banyak sekali umat Islam yang tidak mengetahui bahwa perbuatan ini tidak boleh dilakukan, dengan tanpa beban dan tanpa merasa berdosa ucapan selamat natal itu terlontar dari mulut-mulut mereka. Mereka salah kaprah tentang toleransi beragama sehingga dengan gampang dan mudahnya mereka mengucapkan selamat natal pada teman dan kerabat mereka yang beragama nasrani.
Lalu bagaimana sebenarnya pandangan islam dalam perkara ini? Berikut ini adalah bahasan seputar natal yang disusun dari beberapa fatwa ulama.

Natal Menurut Islam
Peringatan Natal, memiliki makna ‘Memperingati dan mengahayati kelahiran Yesus Kristus’ (Kamus Besar Bahasa Indonesia, Depdiknas terbitan Balai Pustaka). Menurut orang- orang nasrani, Yesus (dalam Islam disebut dengan ‘Isa) dianggap sebagai anak Tuhan yang lahir dari rahim Bunda Maria. Hal ini tentu sangat bertentangan dengan syariat Islam yang mengimani bahwa Nabi ‘Isa ‘alaihis sallam bukanlah anak Tuhan yang dilahirkan ke dunia melainkan salah satu nabi dari nabi-nabi yang Allah utus untuk hamba-hamba- Nya.
Allah Ta’ala berfirman dalam QS Maryam: 30 yang artinya, “Isa berkata, ‘Sesungguhnya aku ini adalah hamba Allah (manusia biasa). Dia memberikan kepadaku Al Kitab (Injil) dan menjadikanku sebagai seorang Nabi.’

” Wahai Saudariku, maka barang siapa dari kita yang mengaku bahwa dirinya adalah seorang muslim, maka ia harus meyakini bahwa ‘Isa adalah seorang Nabi yang Allah utus menyampaikan risalah-Nya dan bukanlah anak Tuhan dengan dasar dalil di atas.

Tentang Ucapan Selamat Natal
Atas nama toleransi dalam beragama, banyak umat Islam yang mengucapkan selamat natal kepada umat nasrani baik kepada kerabat maupun teman. Menurut mereka, ini adalah salah satu cara untuk menghormati mereka. Ini alasan yang tidak benar, sikap toleransi dan menghormati tidak mesti diwujudkan dengan mengucapkan selamat kepada mereka karena di dalam ucapan tersebut terkandung makna kita setuju dan ridha dengan ibadah yang mereka lakukan. Jelas, ini bertentangan dengan aqidah Islam.
Ketahuilah saudariku, hari raya merupakan hari paling berkesan dan juga merupakan simbol terbesar dari suatu agama sehingga seorang muslim tidak boleh mengucapkan selamat kepada umat nasrani atas hari raya mereka karena hal ini sama saja dengan meridhai agama mereka dan juga berarti tolong-menolong dalam perbuatan dosa, padahal Allah telah melarang kita dari hal itu: Dan janganlah kamu tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. (QS Al Maidah: 2)
Ketahuilah wahai saudariku muslimah, ketika seseorang mengucapkan selamat natal kepada kaum nasrani, maka di dalam ucapannya tersebut terdapat kasih sayang kepada mereka, menuntut adanya kecintaan, serta menampakkan keridhaan kepada agama mereka. Seseorang yang mengucapkan selamat natal kepada mereka, sama saja dia setuju bahwa Yesus adalah anak Tuhan dan merupakan salah satu Tuhan diantara tiga Tuhan. Dengan mengucapkan selamat pada hari raya mereka, berarti dia rela terhadap simbol-simbol kekufuran. Meskipun pada kenyataannya dia tidak ridha dengan kekafiran, namun tetap saja tidak diperbolehkan meridhai syiar agama mereka, atau mengajak orang lain untuk memberi ucapan selamat kepada mereka. Jika mereka mengucapkan selamat hari raya mereka kepada kita, hendaknya kita tidak menjawabnya karena itu bukan hari raya kita, bahkan hari raya itu tidaklah diridhai Allah. Ibnul Qayyim rahimahullah menyebutkan, adapun ucapan selamat terhadap simbol-simbol kekufuran secara khusus disepakati hukumnya haram misalnya mengucapkan selamat atas hari raya atau puasa mereka dengan mengatakan, ‘Hari yang diberkahi bagimu’ atau ‘Selamat merayakan hari raya ini’, dan sebagainya. Yang demikian ini, meskipun si pengucapnya terlepas dari kekufuran, tetapi perbuatan ini termasuk yang diharamkan, yaitu setara dengan ucapan selamat atas sujudnya terhadap salib, bahkan dosanya lebih besar di sisi Allah dan kemurkaan Allah lebih besar daripada ucapan selamat terhadap peminum khamr, pembunuh, pezina, dan lainnya dan banyak orang yang tidak mantap pondasi dan ilmu agamanya akan mudah terjerumus dalam hal ini serta tidak mengetahui keburukan perbuatannya. Barangsiapa mengucapkan selamat kepada seorang hamba karena kemaksiatan, bid’ah, atau kekufuran, berarti dia telah mengundang kemurkaan dan kemarahan Allah. Dengan demikian, tidaklah diperkenankan seorang muslim mengucapkan selamat natal meskipun hanya basa-basi ataupun hanya sebagai pengisi pembicaraan saja.


Baca kelanjutannya disini

Friday, December 23, 2011

Satu Makna Hari Ibu yang Terlupakan

Beragam jejaring sosial seperti facebook dan twitter twitter hari ini ramai dengan ucapan selamat kepada para ibu. Program gossip selebritis saling sahut memberitakan beberapa artis yang memberikan kejutan kepada ibu mereka. Lembaga dan organisasi menggelar berbagai lomba dengan tema “IBU”.
Image and video hosting by TinyPic
Banyak orang mengistimewakan ibu dengan berbagai cara seperti memberi hadiah lucu, cake, coklat, bunga, atau dengan membebaskan sang ibu dari kegiatan sehari-hari yang sangat identik dengan keibuan. Bahkan Presiden SBY beserta Ibu Negara, Ani Yudhoyono, turut hadir dalam sebuah acara kenegaraan di Ballroom Raflessia Balai Kartini Jakarta Selatan, dalam acara peringatan ke-83 Hari Ibu. Ya, hari ini, 22 Desember, Indonesia tengah merayakan Hari Ibu Nasional. Dalam perayaan Hari Ibu, fenomena di atas kerap menjadi sebuah rutinitas tahunan. Hari Ibu sering dijadikan sebagai momen yang tepat untuk mengungkapkan terima kasih dan berbalas budi atas jasa ibu yang begitu luar biasa.

Pada hari tersebutlah para ibu menjadi kaum yang paling istimewa. Tapi, sadarkah kita, bahwa ada satu makna ibu yang telah terlupa? Keberadaan dan fungsi seorang Ibu memang sangat luar biasa. Ibu adalah pendidik pertama bagi anak-anak yang dilahirkannya, para generasi harapan bangsa. Sebab para ibu lah yang seharusnya merawat, mengasuh, mengajari berjalan, mengajari berbicara, serta memastikan dan menyaksikan setiap tingkat perkembangan anaknya terpenuhi sesuai standar. Dengan demikian, kualitas akhlak, moral, intelektual, dan pengetahuan seorang ibu dapat mempengaruhi kualitas generasi muda harapan bangsa tersebut.

Peran strategis Ibu sebagai pendidik pertama bagi generasi muda belumlah sebanding dengan peran lain yang abstrak, namun bisa dirasakan sebagai kekuatan yang termat dahsyat berupa kasih sayang. Kasih sayang seorang ibu tak akan pernah bertepi, sampai kapan pun, dalam keadaan apa pun, seorang ibu akan selalu menjaga kasih sayang untuk anaknya. Hal ini adalah sebuah fitrah yang tak cukup selesai jika hanya dideskripsikan dengan 26 jenis huruf dalam abjad, dan tak pernah terhitung dengan kombinasi 10 jenis angka.

Hari Ibu Nasional bermula dari sebuah kongres perempuan I yang diadakan pada tanggal 22-25 Desember 1928 di Yogyakarta. Kongres ini dihadiri oleh 30 organisasi perempuan dari 12 kota di daerah Jawa dan Sumatra. Organisasi perempuan itu sendiri sudah ada sejak tahun 1912 dan diilhami oleh pejuang wanita seperti: Martha Christina Tiahahu, Cut NYak Dhien, Tjoet Nyak Meutia, R. A. Kartini, Maria Walanda Maramis, Dewi Sartika, Nyai Ahmad Dahlan, Rasuna Said, dll. Dalam kongres tersebut, para pimpinan organisasi perempuan Indonesia bersatu membahas dan mencari ide-ide solutif untuk memperjuangkan perbaikan nasib kaum perempuan dan bangsa. Bahasan tersebut antara lain mengenai pemersatuan kaum perempuan se-Indonesia, pelibatan perempuan dalam perjuangan kemerdekaan bangsa, perbaikan gizi dan kesehatan ibu dan anak, perdagangan perempuan dan anak-anak, pernikahan dini bagi perempuan, dll. Hari Ibu itu sendiri diputuskan pada Kongres Perempuan III tahun 1938. Peringatan ke-50 tahun Hari Ibu dirayakan seluruh rakyat Indonesia dari Meulaboh sampai Merauke. Presiden pun mengakui secara nasional bahwa tanggal 22 Desember adalah hari ibu melalui Dekrit Presiden No. 316 Tahun 1959. Misi perayaan hari ibu pada waktu itu adalah mengenang semangat perjuangan para perempuan untuk memperbaiki kualitas bangsa Indonesia.

Di Solo, perayaan ke-25 tahun Hari Ibu dikemas dengan membuat pasar amal yang hasilnya digunakan untuk menyumbang Yayasan Kesejahteraan Buruh Wanita dan beasiswa untuk anak-anak perempuan. Segala bentuk perayaan hari Ibu bersifat perbaikan bangsa. Hal ini berbeda sekali dengan bentuk perayaan Hari Ibu masa kini. Hari Ibu kini sekedar menjadi ajang ucapan terima kasih, pujian, dan pembebasan kerja untuk ibu. Tidak tampak lagi semangat negarawati kaum wanita untuk turut memperbaiki kualitas Indonesia. Padahal, ucapan terima kasih dan pengistimewaan ibu harusnya dilakukan setiap hari karena ibulah yang telah merawat dan membesarkan kita, Ibulah pejuang pendidikan pertama kita, generasi harapan bangsa. Memang, tak ada salahnya untuk memicu semangat berterimakasih dan mengistimewakan ibu dengan mengkhususkan satu hari tertentu. Hal ini dapat menjadi solusi atas fitrah manusia yang sering lupa. Akan tetapi, kita juga tidak boleh melupakan sebuah makna hari ibu untuk bersatu, berjuang, memperbaiki kualitas bangsa Indonesia.

Salam semangat Hari Ibu. Kaum Wanita, kita berperan perbaiki bangsa.





sumber : kompasiana.com

Thursday, September 8, 2011

Mencari Jawab-Nya

Image and video hosting by TinyPic
Seorang pemuda yg lama sekolah di negeri barat kembali ke Indonesia. Sampai di rumah ia minta orang tuanya u/ m'cari guru agama, atau siapapun yg bisa menjawab 3 pertanyaannya.

Akhirnya orang tua pemuda itu...